Senin, 06 April 2020

Sunyi dari Diri





Kadang kebigungan begitu estetik menari-nari didalam kepala kita. Berjalan mundar-mandir serupa  sebuah drama layar kaca. Selangkah kaki melayang menginjak tanah, selangkah kaki mengayun kebelakang ragu akan arah. Apa aku menuju jalan yang benar? Tampaknya akhir cerita  itu cuplikan-cuplikan drama yang terikat. Dikemas oleh Sutradara yang paling handal . Tak ada yang mampu menandingi keindahan alur ceritanya, Yang banyak menyadarkan manusia bahwa alur ceritaNya lebih indah dari rencana kita.

Barangkali malam ini memang cocok untuk sedikit bersandar pada kebodohan lalu. Duduk menunggu datangnya siang, walaupun kau tahu tiap detik pergi  tanpa seucap kata dan berlalu sia-sia.  Kau begitu mencinta  terang dari pada gelap. Matamu terlalu jauh melihat kedepan, sejatinya ragamu masih ada disini dalam selimut kegelapan. Kapan kau sadar untuk segera melepaskan ?

Tampakku lihat secangkir kopi yang dingin tanpa disentuh pemiliknya. Angin berhembus merampas aroma kehangatannya. Kau egois,katanya.

Kali ini tugasku rumit, hanya dua menit satu detik. Ku buka lembaran kertas kosong dan ku isi dengan tinta yang tersisa. Semua rumit, Jika Paul Van River ada disini mungkin ia akan tertawa melihat kekonyolan ini.Ia akan berkata, keputusan itu harus kenal spontanitas. Jika sistematis tak dapat berkawan baik.

_Dialogsunyii

Tidak ada komentar:

Posting Komentar