Kau
menghela nafas dalam-dalam. Dan lagi- lagi kau harus berada pada jalan yang selalu memberimu sebuah
pilihan yang sulit.
Kau
hanya menepuk dada dan berkata pada dirimu sendiri. “ Ini bukan yang pertama
kali, aku pasti bisa melalui. "
Jam
pasir itu diam, namun ada ruang yang terisi dan perlahan kosong. Sekilas tampak
tak ada yang berubah, namun kau salah. Ia mengelabuimu agar tiba pada saatnya
kau benar-benar menyesal telah menyia -nyiakannya.
Kini
kau pergi dengan buku kosong dan sebuah pena.
Berjalan sendiri, menuju jalan yang kau pilih. Terkadang kau melihat senyum
manusia -manusia yang mengiringi perjalannanmu. Namun mereka tak pernah bertahan
lama dan setelah beberapa detik jarum jam berpidah kau akhirnya sadar bahwa
mereka hanya fatamorgana.
Sekumpulan
domba menyapa kedatanganmu disebuah desa penggembala. Menyapamu dengan suara “
embe,embe”. Kau kebingungan, mengapa domba –domba itu tidak berkata domba? “Ah, manusia pun kadang tak menyapa manusia
dengan sebutan manusia.” Pikirmu.
Kau
duduk disebuah batu dibawah pohon mangga. Gerombolan domba digiring penggembala
agar melewati jalan yang penggembala pilih. Semua domba mengikuti jalan itu,
tanpa memberontak dan bertanya kepada penggembala dia akan dibawa kemana.
Kaupun ingat akan suatu hal. Bahwa dalam tasmu ada
sebuah buku dan pena yang kau bawa dari rumah. Namun kau bingung, kedua benda
itu untuk apa kau bawa. Kepalamu mulai gatal, kau gunakan bagian atas pena
untuk menggaruknya. Kau mulai berpikir bahwa kedua benda itu bisa kau gunakan
untuk mencatat hal- hal penting yang akan kau lalui disetiap perjalanan
didepanmu. Dan akhirnya kau menulis dalam halaman pertama buku itu.
Kau bukan domba, kau adalah manusia. Tuhan menciptakanmu dengan
sempurna dari makhluk makhluk lain. Kau memiliki akal untuk berpikir. Hidup ini
pilihan , kau seharusnya berjalan diatas pilihanmu. Bukan seperti domba yang
terus patuh dan tunduk pada jalan pilihan penggembala.
Kau
tutup buku itu, dan berbenah untuk tidur. Raga mu lelah, otakmu juga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar